Sebuah
sengatan halus matahari mengiringi langkahku menuju taman kota yang acap kali kusinggahi
seusai sekolah. Aku berusia hampir 17
tahun dan saat ini tengah duduk dibangku SMA, namaku Bianca Advila. Disini
disebuah taman kota ceritaku bermula telah terbingkai sebuah cerita yang penuh
suka dan duka. Aku berjalan gontai, namun setibanya di taman mataku ter
belalak, kepalaku bagai disambar petir di siang bolong. Aku terkejut bukan main karena mendapati seraut wajah yang asing namun sering kujumpai dalam ruang waktu. Ia seolah-olah terbingkai dan terpampang indah keluar dari dalam ingatanku.Tanpa gerak maupun bertingkah, nyaris diam. Sebenarnya aku ingin berbalik arah dan mengurungkan niatku menuju bangku taman. Namun sayang ia telah menangkap basah kehadiranku. Aku tak ingin semua memori tentang lelaki itu muncl lagi. Aku sudah melupakannya. Yaa walau ia masih sering teringat, tapi setidaknya tanpa kehadirannya. Aku memilih untuk duduk dibangku lain berharap menghindarinya.
belalak, kepalaku bagai disambar petir di siang bolong. Aku terkejut bukan main karena mendapati seraut wajah yang asing namun sering kujumpai dalam ruang waktu. Ia seolah-olah terbingkai dan terpampang indah keluar dari dalam ingatanku.Tanpa gerak maupun bertingkah, nyaris diam. Sebenarnya aku ingin berbalik arah dan mengurungkan niatku menuju bangku taman. Namun sayang ia telah menangkap basah kehadiranku. Aku tak ingin semua memori tentang lelaki itu muncl lagi. Aku sudah melupakannya. Yaa walau ia masih sering teringat, tapi setidaknya tanpa kehadirannya. Aku memilih untuk duduk dibangku lain berharap menghindarinya.
“Heh?apa
ini mimpi!” batinku.
Laki-laki
ini masih juga seperti dulu dengan tubuh semikurus, sorot mata ramah, rahang kukuh,
rambut ikal yang tertata amat rapinya, dan tidak lupa sepasang pemanis kaki
warna ungu usang yang dulu sering ia kenakan.
Ia bagai keluar dari masalalu.Ia bernama Faizal Nugraha. 2 tahun lalu ia adalah
kakak kelasku saat itu kami saling mengenal dan saling memliki perasaan namun
suatu hari kejadian yang tak pernah ku bayangkan hadir, ia menghilang entah
kemana dan kini laki-laki itu muncul kembali tanpa pernah terlintas lagi dalam kepalaku
bahwa aku akan menemukannya siang-siang seperti ini. “Nyatakah ini?” mataku mulai
pedih, kutepis halus semua ingatan yang mendadak datang.
“Apa
kabar kamu?” suara dari masalalu yang lama telah terlepaskan.
“Aku?”
Tanya ku memastikan.
“Iya.”
“Ya
beginilah. Masih sama seperti dulu.”
“2
tahun lebih tidak bertemu kabarmu masih sama? Bagiku 2 tahun belakangan ini banyak
mengubahku.”
“Apakah
menjadi urusanku?” gumamku dalam hati.
“Bagaimana
sekolahmu Bi?”
“Alhamdulillah
baik. Kamu?”
“Baik.”
Kami sudah kehilangan pembicaraan sejak
beberapa saat lalu entah karena gugup atau apalah hanya saja aku merasa sedikit
canggung terhadapnya. Aku memilih diam melamun sambil menatap tanaman yang
sebenarnya sama sekali tak menarik perhatiaanku diam-diam jantungku berdebar
keras. Ini adalah kali pertama kami duduk ditaman berdua setelah sepersekian
tahun kami tak bertemu.
“Bi…”
“Iya??”
“Eeeem..maaf”
“Untuk?”
“Aku
minta maaf Karena kemaren telah meninggalkan kamu tanpa kabar. Maaf jika kamu menungguku
atau mungkin kau telah lupa padaku?.Aku minta maaf Bi.”
Aku
tak bersuara sedikitpun. 2 tahun aku menanti lelaki ini ditaman yang sama tempat
duduk yang sama hingga waktu berlalu musimpun berganti, dan siang ini tiba-tiba
ia menampakan diri lagi ditaman ini membawa setumpuk luka masalalu bagiku.
Padahal asal dia tahu aku kini sedang mencoba mengubur kenangan bersama Ical laki-laki
yang 2 tahun lalu menjadi seseorang yang berarti bagiku, selalu ada untukku dan
menemaniku bercengkrama ditaman kota ini. Namun betapa bodohnya aku, hingga
saat ini aku masih dan sepertinya akan tetap mencintainya. Semoga saja tidak.
“Berhari-hari
aku mencarimu Cal. Bahkan setiap tempat
yang sering kau singgahi tak pernah terlewatkan olehku. Aku hanya ingin menemukanmu,
mengetahui apakah kabarmu baik? Tapi semua nihil tak sedikitpun bekas jejak maupun
bayanganmu disana-sini. Tak ada kabar bahkan sebuah pesanpun tak pernah kau kirim
untuk membuatku tak khawatir dan selalu mencarimu. Dan sekarang setelah aku berhenti
mencarimu dan mengharap kau kembali. Kau datang. Apa sebenarnya yang kau harap
dariku?” protesku dengan penuh emosi.
Ical
hanya terdiam tertunduk diantara duduknya. Kami saling bisu hingga cahaya keemasan
menyadarkan ku bahwa aku harus segera pulang sebelum ibu merasa khawatir karena
sesore ini anak gadisnya tak kunjung pulang.
“Aku
harus pulang sebaiknya kau tak menemuiku lagi.”
“Kenapa
begitu? Aku berjanji Bi tak akan meninggalkanmu lagi. Aku mohon Bi?”
“Aku
tak yakin bisa.”
“Bi
kumohon!”
Aku
tak menghiraukan perkataan Ical. Hatiku sakit saat harus berbohong pada diriku sendiri
tak dapat kupungkiri aku sangat bahagia menemukan Ical masih seperti dulu tak berubah.
Namun sakit ditinggalkan tak mudah pula dilupakan. Setelah membalikan badan tak
kusadari air mata mulai mengalir dipiku entah air mata apa namanya, aku tak
tau. Rasa senang, sedih datang bersamaan, aku juga tak tau apa yang lebih
dominan.
“Assalamuallaiku
Bu. Biyan pulang.Aku langsung ke kamar ya bu.”
“Iya
nak segera ganti baju dan makan ya ibu sudah masak.”
“Iya
bu.”
Sesampainya di kamar aku menaruh tas kecilku
di meja dan mulai mengganti baju sekolahku. Namun rasanya enggan memenuhi permintaan
ibuku untuk segera makan. Diruangan inilah aku merasa nyaman menumpahkan keluh
kesahku setiap hari entah itu sendiri, bersama ibuku atau bahkan Dian. Aku
merebahkan badanku yang mulai terasa sangat pegal-pegal diatas busa. Dipikiranku
yang ada hanya kejadian siang tadi pertemuanku pertama kali dengan Ical setelah
2 tahun lamanya kami tak saling bertatap muka maupun memberi kabar satu sama
lain. Aku terbayang-bayang hingga akhirnya terlelap karena terlalu lelah karena
tugas sekolah dan tekanan batin yang sedang melanda. Apakah ia merasa bersalah
padaku?
***
Jam
dinding dikamarku kini sudah menunjuk angka 6. Aku segera bergegas mandi dan mengerjakan
panggilan Tuhan yang sudah menjadi kewajibaan dan tanggunganku. Seusai sholat
aku meyadari bahwa kini hujan turun dan dinginpun mulai memenuhi seisi kamar membuat
aku enggan untuk keluar kamar meski sejak
siang tadi ibu menyuruhku keluar kamar.
Tiba-tiba
nafasku sesak sesaat karena selalu teringat kejadian yang membuatku begitu ‘shock’.
“ Baiklah tidak semuanya selalu menoleh kebelakang, adakalanya aku harus maju demi
sesuatu yang akan lebih baik “ batinku meyakinkan diri setelah bertempur dengan
penolakan yang hebat dari masalaluku. kuseruput segelas teh hangat buatan ibuku
yang tadi diantarkan ke kamarku. Sedikit demi sedikit kesadarannya mulai terkumpul
mengukuhkan keyakinannya, kulirik handphoneku kemudian kudapati 1 message belum dibaca dari
nomor baru.
Sender : 089946xxxxx
Aku tunggu kamu ditaman besok seusai sekolah.
Kumohon.Ical
Ternyata
dari Ical tak disangka ia akan mengirim pesan padaku. Senyum mulai mengembang dibibirku.
Namun aku tak berniat sedikitpun untuk membalas pesan itu. Mataku kini mulai lelah
setelah mengerjakan tugas sekian banyaknya. Segera aku putuskan untuk tidur dan
bangun esok untuk sekolah dan menemui Ical ditaman. Namun usahaku gagal,
tiba-tiba handphoneku bordering ternyata Ical mencoba menghubungiku.
***
Kriiiing….kriiing..bunyi
alarm yang semalam kusetel begitu mengagetkanku setelah semalam penuh hujan turun
kini saatnya mentari yang mengambil alih posisi siap bersinar cerah, secerah hatiku
yang sumringah pagi ini.
“Pagi
Biyan sayang?” sapa Dian sahabatku sejak duduk dibangku SMP yang sekaligus teman
sebangkuku saat ini.
“Kau
kenapa tumben banget nyapa semanis ini? Kamu sakit?”
“Ah
jangan begitu kamu lagi senengkan?”
“Heh
apaan? Sok tau kamu.”
“Ah
jangan begitu mukamu memerah tuh. Kamu nggak bakal bisa membohongiku yaa.” Goda
Dian
“Apa
sebenarnya yang kau ketahui? Ical kah?”
“Menurutmu?”
“Kok
tahu akukan belum cerita!”
“Apasih
yang nggak Dian tau tentang kamu biyan sayang?”
“Aangan
bilang..” belum selesai aku bicara Dian sudah memotong kalimatku.” Kemarin Ical
datang kerumah dia menanyakan tentang kamu”
“Tentangku?
Apa yang ia tanyakan. Apa yang memberikan nomer handphoneku juga kamu?”
“Tentu!
Jangan pernah kau bohongi perasaanmu sendiri Bi, aku tau kamu masih dan akan tetap
menyukainya. Aku tau itu. Seusai sekolah pergilah ketaman ia menunggumu disana dia
berharap kamu mau memaafkannya.”
“Aku
sudah memaafkannya Di. Tapi..”
“Tapi
apa? Apa lagi alasanmu untuk menghindar?”
“Baiklah
siang ini juga aku akan kesana.”
Jam
pelajaran siang ini terasa sangat cepat kini sudah waktunya pulang. Aku segera memberesi
barang bawaku dan bergegas untuk ke taman dan menemui Ical dengan keadaan yang
berbeda dari hari kemarin.
Setibanya
ditaman Ical melemparkan senyuman termanis yang dimilikinya aku seakan ingin terbang
menyaksikan senyuman itu, dibalasnya senyuman Ical.
“Sudah
menunggu lama?”
“Masih
lama kamu menungguku 2 tahun ini! Hehe”
“Okelah
kalo begitu”
“Kamu
cantik.”
“Apasih
malu, aku boleh tanya?”
“Tanyalah
bi? Mau tanya tentang aku pergi?”
“Pasti.
Selama ini kenapa kamu tak pernah menghubungiku atau
sekedar menampak diri dihadapanku? Apa kau lupa padaku? Atau kau dapat yang
lain? Atau kau bosan denganku?”
“Banyaknya
pertanyaanmu! Oh itu aku hanya belajar”
“Belajar?”
Iya
aku belajar membuatmu menungguku dan menguji kesetiaanmu! Haha”
“Ah
nggak lucu!”
“Kamu
yang lucu sayang. Kau tak ingat kemarin sore saat pertama kali kita ketemu
harusnya kau memelukku, bukan mmarahiku!”
“Sayang?”
“Iya!
Tak bolehkah?”
“Whateverlah?”
Candaan
sore ini begitu indah meski banyak kecanggungan antara kami berdua berbanding
terbalik dengan kemarin sore. Bagai abg saja dia mengajariku ‘ababil’. Aku
senang mendapati dirku dapat member senyuman tulus tanpa sebuah sandiwara.
-END-


syalalaaa~
BalasHapus