Sabtu, 07 September 2013

Taman Kota


 
Sebuah sengatan halus matahari mengiringi langkahku menuju taman kota yang acap kali kusinggahi seusai sekolah. Aku  berusia hampir 17 tahun dan saat ini tengah duduk dibangku SMA, namaku Bianca Advila. Disini disebuah taman kota ceritaku bermula telah terbingkai sebuah cerita yang penuh suka dan duka. Aku berjalan gontai, namun setibanya di taman mataku ter
belalak, kepalaku bagai disambar petir di siang bolong. Aku terkejut bukan main karena mendapati seraut wajah yang asing namun sering kujumpai dalam ruang waktu.  Ia  seolah-olah terbingkai dan terpampang indah keluar dari dalam ingatanku.Tanpa gerak maupun bertingkah, nyaris diam. Sebenarnya aku ingin berbalik arah dan mengurungkan niatku menuju bangku taman. Namun sayang ia telah menangkap basah kehadiranku. Aku tak ingin semua memori tentang lelaki itu muncl lagi. Aku sudah melupakannya. Yaa walau ia masih sering teringat, tapi setidaknya tanpa kehadirannya. Aku memilih untuk duduk dibangku lain berharap menghindarinya.
“Heh?apa ini mimpi!” batinku.
Laki-laki ini masih juga seperti dulu dengan tubuh semikurus, sorot mata ramah, rahang kukuh, rambut ikal yang tertata amat rapinya, dan tidak lupa sepasang pemanis kaki warna ungu usang yang dulu sering  ia kenakan. Ia bagai keluar dari masalalu.Ia bernama Faizal Nugraha. 2 tahun lalu ia adalah kakak kelasku saat itu kami saling mengenal dan saling memliki perasaan namun suatu hari kejadian yang tak pernah ku bayangkan hadir, ia menghilang entah kemana dan kini laki-laki itu muncul kembali tanpa pernah terlintas lagi dalam kepalaku bahwa aku akan menemukannya siang-siang seperti ini. “Nyatakah ini?” mataku mulai pedih, kutepis halus semua ingatan yang mendadak datang.
“Apa kabar kamu?” suara dari masalalu yang lama telah terlepaskan.
“Aku?” Tanya ku memastikan.
“Iya.”
“Ya beginilah. Masih sama seperti dulu.”
“2 tahun lebih tidak bertemu kabarmu masih sama? Bagiku 2 tahun belakangan ini banyak mengubahku.”
“Apakah menjadi urusanku?” gumamku dalam hati.
“Bagaimana sekolahmu Bi?”
“Alhamdulillah baik. Kamu?”
“Baik.”
   Kami sudah kehilangan pembicaraan sejak beberapa saat lalu entah karena gugup atau apalah hanya saja aku merasa sedikit canggung terhadapnya. Aku memilih diam melamun sambil menatap tanaman yang sebenarnya sama sekali tak menarik perhatiaanku diam-diam jantungku berdebar keras. Ini adalah kali pertama kami duduk ditaman berdua setelah sepersekian tahun kami tak bertemu.
“Bi…”
“Iya??”
“Eeeem..maaf”
“Untuk?”
“Aku minta maaf Karena kemaren telah meninggalkan kamu tanpa kabar. Maaf jika kamu menungguku atau mungkin kau telah lupa padaku?.Aku minta maaf Bi.”
Aku tak bersuara sedikitpun. 2 tahun aku menanti lelaki ini ditaman yang sama tempat duduk yang sama hingga waktu berlalu musimpun berganti, dan siang ini tiba-tiba ia menampakan diri lagi ditaman ini membawa setumpuk luka masalalu bagiku. Padahal asal dia tahu aku kini sedang mencoba mengubur kenangan bersama Ical laki-laki yang 2 tahun lalu menjadi seseorang yang berarti bagiku, selalu ada untukku dan menemaniku bercengkrama ditaman kota ini. Namun betapa bodohnya aku, hingga saat ini aku masih dan sepertinya akan tetap mencintainya. Semoga saja tidak.
“Berhari-hari aku mencarimu Cal. Bahkan setiap tempat  yang sering kau singgahi tak pernah terlewatkan olehku. Aku hanya ingin menemukanmu, mengetahui apakah kabarmu baik? Tapi semua nihil tak sedikitpun bekas jejak maupun bayanganmu disana-sini. Tak ada kabar bahkan sebuah pesanpun tak pernah kau kirim untuk membuatku tak khawatir dan selalu mencarimu. Dan sekarang setelah aku berhenti mencarimu dan mengharap kau kembali. Kau datang. Apa sebenarnya yang kau harap dariku?” protesku dengan penuh emosi.
Ical hanya terdiam tertunduk diantara duduknya. Kami saling bisu hingga cahaya keemasan menyadarkan ku bahwa aku harus segera pulang sebelum ibu merasa khawatir karena sesore ini anak gadisnya tak kunjung pulang.
“Aku harus pulang sebaiknya kau tak menemuiku lagi.”
“Kenapa begitu? Aku berjanji Bi tak akan meninggalkanmu lagi. Aku mohon Bi?”
“Aku tak yakin bisa.”
“Bi kumohon!”
Aku tak menghiraukan perkataan Ical. Hatiku sakit saat harus berbohong pada diriku sendiri tak dapat kupungkiri aku sangat bahagia menemukan Ical masih seperti dulu tak berubah. Namun sakit ditinggalkan tak mudah pula dilupakan. Setelah membalikan badan tak kusadari air mata mulai mengalir dipiku entah air mata apa namanya, aku tak tau. Rasa senang, sedih datang bersamaan, aku juga tak tau apa yang lebih dominan.
“Assalamuallaiku Bu. Biyan pulang.Aku langsung ke kamar ya bu.”
“Iya nak segera ganti baju dan makan ya ibu sudah masak.”
“Iya bu.”
   Sesampainya di kamar aku menaruh tas kecilku di meja dan mulai mengganti baju sekolahku. Namun rasanya enggan memenuhi permintaan ibuku untuk segera makan. Diruangan inilah aku merasa nyaman menumpahkan keluh kesahku setiap hari entah itu sendiri, bersama ibuku atau bahkan Dian. Aku merebahkan badanku yang mulai terasa sangat pegal-pegal diatas busa. Dipikiranku yang ada hanya kejadian siang tadi pertemuanku pertama kali dengan Ical setelah 2 tahun lamanya kami tak saling bertatap muka maupun memberi kabar satu sama lain. Aku terbayang-bayang hingga akhirnya terlelap karena terlalu lelah karena tugas sekolah dan tekanan batin yang sedang melanda. Apakah ia merasa bersalah padaku?
                                                               ***
Jam dinding dikamarku kini sudah menunjuk angka 6. Aku segera bergegas mandi dan mengerjakan panggilan Tuhan yang sudah menjadi kewajibaan dan tanggunganku. Seusai sholat aku meyadari bahwa kini hujan turun dan dinginpun mulai memenuhi seisi kamar membuat aku  enggan untuk keluar kamar meski sejak siang tadi ibu menyuruhku keluar kamar. Tiba-tiba nafasku sesak sesaat karena selalu teringat kejadian yang membuatku begitu ‘shock’. “ Baiklah tidak semuanya selalu menoleh kebelakang, adakalanya aku harus maju demi sesuatu yang akan lebih baik “ batinku meyakinkan diri setelah bertempur dengan penolakan yang hebat dari masalaluku. kuseruput segelas teh hangat buatan ibuku yang tadi diantarkan ke kamarku. Sedikit demi sedikit kesadarannya mulai terkumpul mengukuhkan keyakinannya, kulirik handphoneku  kemudian kudapati 1 message belum dibaca dari nomor baru.
Sender : 089946xxxxx
Aku tunggu kamu ditaman besok seusai sekolah. Kumohon.Ical
Ternyata dari Ical tak disangka ia akan mengirim pesan padaku. Senyum mulai mengembang dibibirku. Namun aku tak berniat sedikitpun untuk membalas pesan itu. Mataku kini mulai lelah setelah mengerjakan tugas sekian banyaknya. Segera aku putuskan untuk tidur dan bangun esok untuk sekolah dan menemui Ical ditaman. Namun usahaku gagal, tiba-tiba handphoneku bordering ternyata Ical mencoba menghubungiku.  
                                                               ***
Kriiiing….kriiing..bunyi alarm yang semalam kusetel begitu mengagetkanku setelah semalam penuh hujan turun kini saatnya mentari yang mengambil alih posisi siap bersinar cerah, secerah hatiku yang sumringah pagi ini.
“Pagi Biyan sayang?” sapa Dian sahabatku sejak duduk dibangku SMP yang sekaligus teman sebangkuku saat ini.
“Kau kenapa tumben banget nyapa semanis ini? Kamu sakit?”
“Ah jangan begitu kamu lagi senengkan?”
“Heh apaan? Sok tau kamu.”
“Ah jangan begitu mukamu memerah tuh. Kamu nggak bakal bisa membohongiku yaa.” Goda Dian
“Apa sebenarnya yang kau ketahui? Ical kah?”
“Menurutmu?”
“Kok tahu akukan belum cerita!”
“Apasih yang nggak Dian tau tentang kamu biyan sayang?”
“Aangan bilang..” belum selesai aku bicara Dian sudah memotong kalimatku.” Kemarin Ical datang kerumah dia menanyakan tentang kamu”
“Tentangku? Apa yang ia tanyakan. Apa yang memberikan nomer handphoneku juga kamu?”
“Tentu! Jangan pernah kau bohongi perasaanmu sendiri Bi, aku tau kamu masih dan akan tetap menyukainya. Aku tau itu. Seusai sekolah pergilah ketaman ia menunggumu disana dia berharap kamu mau memaafkannya.”
“Aku sudah memaafkannya Di. Tapi..”
“Tapi apa? Apa lagi alasanmu untuk menghindar?”
“Baiklah siang ini juga aku akan kesana.”
Jam pelajaran siang ini terasa sangat cepat kini sudah waktunya pulang. Aku segera memberesi barang bawaku dan bergegas untuk ke taman dan menemui Ical dengan keadaan yang berbeda dari hari kemarin.
Setibanya ditaman Ical melemparkan senyuman termanis yang dimilikinya aku seakan ingin terbang menyaksikan senyuman itu, dibalasnya senyuman Ical.
“Sudah menunggu lama?”
“Masih lama kamu menungguku 2 tahun ini! Hehe”
“Okelah kalo begitu”
“Kamu cantik.”
“Apasih malu, aku boleh tanya?”
“Tanyalah bi? Mau tanya tentang aku pergi?”
“Pasti. Selama ini kenapa kamu tak pernah menghubungiku atau sekedar menampak diri dihadapanku? Apa kau lupa padaku? Atau kau dapat yang lain? Atau kau bosan denganku?”
“Banyaknya pertanyaanmu! Oh itu aku hanya belajar”
“Belajar?”
Iya aku belajar membuatmu menungguku dan menguji kesetiaanmu! Haha”
“Ah nggak lucu!”
“Kamu yang lucu sayang. Kau tak ingat kemarin sore saat pertama kali kita ketemu harusnya kau memelukku, bukan mmarahiku!”
“Sayang?”
“Iya! Tak bolehkah?”
“Whateverlah?”
Candaan sore ini begitu indah meski banyak kecanggungan antara kami berdua berbanding terbalik dengan kemarin sore. Bagai abg saja dia mengajariku ‘ababil’. Aku senang mendapati dirku dapat member senyuman tulus tanpa sebuah sandiwara.

-END-

1 komentar: