“Dia memang
indah dan benar-benar indahentah dariapa tuhan telah menciptakan ia.” Kata-kata itu yang yang kini benar-benar
menghantui fikiranku. Lelaki yangmemang tak sengaja kulirik saat ada acara
class meeting disekolahku telah mengusik ketenangan hidupku hari ini. Nama! Iya
nama, siapakah namanyapun aku tak tau bagaimana aku bisa menyukainya, sungguh
takdir tuhan memang indah, pagi-pagi mataku sudah mendapatkan vitamin terindah
yang tak akan dan tak mungkin terlupakan dan akan membeku didalam otakku.
Setelah acara yang mengesankan itu aku terus didera rasa penasaran, beberapa
hari aku benar-benar menjadi orang yang
dibuat gila seketika oleh keadaan. Tanpa bosan aku mencari siapakah
namanya akhirnya akupun menemukan namanya
. Ia adalah kaka Dewa, lengkapnya keenan dewa anugrah , nama yang indah. God aku sangat terbuai oleh senyumnya yang mungkin terbuat dari gula, manis sekali. Ah Tuhan melting rasanya. Dia memang juara dihati setiap gadis di smada tercinta. Singkat cerita awalkali aku menyaksikan kelihaiannya mamainkan teman kesayangannya (piano) aku mulai mengaguminya saat itu ada lah salah seorang teman karibku yang bernama Ami menunjukan ketampanan kakak kelasku yang saat ini duduk dikelas XII *(tak perlu disebutkan profilnya) itu kepadaku. Hari itu memang sungguh semperna indah sekali aku menyaksikan malaikat tuhan turun ke bumisedang bernyanyi dibawah pepohonan rindang. Hari-hari berikutnya aku mulai selalu mencari-carinya, hingga akhirnya aku tau ia sering mengunjungi musola. Subhanallah. Bukan hanya tampan namun hatinya pun juga menawan. Mungkin dosaku sudah tak terkira aku pergi ke musola bukan sekedar untuk beribadah namun disis lain juga ingin kak Dewa menghadap Engkau. Rasanya ingin berteriak berteriak memanggil namanya sekencang-kencangnya. Aku memandanginya nyaris tanpa berkedip sementara Ami yang sedari tadi berceloteh riang mulai dari pelajaran hari ini yang membosankan, gossip yang sedang hot, dan sampai hal-hal yang menurutku tak perlu dibicarakan ditempat umum seperti musola. Saat tak kusadari ternyata kaka Dewa menoleh kearahku, “wuih hampir saja ketahuan” gumamku dalam hati, akupun lekas-lekas memalingkan pandanganku, canggung sekaligus malu. Ami yang sedari tadi mengomel karena ceritanya mulai tak kudengarkan tiba-tiba diam seribu bahasa dan memandangiku yang sedang asik membenahi mukena yang selesai kupakai.
. Ia adalah kaka Dewa, lengkapnya keenan dewa anugrah , nama yang indah. God aku sangat terbuai oleh senyumnya yang mungkin terbuat dari gula, manis sekali. Ah Tuhan melting rasanya. Dia memang juara dihati setiap gadis di smada tercinta. Singkat cerita awalkali aku menyaksikan kelihaiannya mamainkan teman kesayangannya (piano) aku mulai mengaguminya saat itu ada lah salah seorang teman karibku yang bernama Ami menunjukan ketampanan kakak kelasku yang saat ini duduk dikelas XII *(tak perlu disebutkan profilnya) itu kepadaku. Hari itu memang sungguh semperna indah sekali aku menyaksikan malaikat tuhan turun ke bumisedang bernyanyi dibawah pepohonan rindang. Hari-hari berikutnya aku mulai selalu mencari-carinya, hingga akhirnya aku tau ia sering mengunjungi musola. Subhanallah. Bukan hanya tampan namun hatinya pun juga menawan. Mungkin dosaku sudah tak terkira aku pergi ke musola bukan sekedar untuk beribadah namun disis lain juga ingin kak Dewa menghadap Engkau. Rasanya ingin berteriak berteriak memanggil namanya sekencang-kencangnya. Aku memandanginya nyaris tanpa berkedip sementara Ami yang sedari tadi berceloteh riang mulai dari pelajaran hari ini yang membosankan, gossip yang sedang hot, dan sampai hal-hal yang menurutku tak perlu dibicarakan ditempat umum seperti musola. Saat tak kusadari ternyata kaka Dewa menoleh kearahku, “wuih hampir saja ketahuan” gumamku dalam hati, akupun lekas-lekas memalingkan pandanganku, canggung sekaligus malu. Ami yang sedari tadi mengomel karena ceritanya mulai tak kudengarkan tiba-tiba diam seribu bahasa dan memandangiku yang sedang asik membenahi mukena yang selesai kupakai.
“Kenapa?” tanyaku saat mulai menyadari
diam memperhatikanku dengan tatapan aneh.
“Kenapa!” tanyanya balik padaku,
mengambil nafas pelan seraya memasang mimic penuh kegarangan.
Dengan
ekor mata aku meliriknya dengan tahu apa
yang sebenarnya inain ia katakan, namun ternyata ia tak melanjutkan sedikitpun
komentarnya. Setelah selesai merapikan mukena, kami bergegas menuju pintu dan
duduk diteras musola yang beralas keramik warna hitam ituseraya mengenakan
sepatu. Tanpa kami sadari 2 pasang mata telah memperhatikan kami sedari tadi
sembari mengucap
“Udah sholatnya?”
“Udah” jawabku singkat.
“Modusnya juga udah? Haha”
Sontak aku menatapnya lekat-lekat
pada orang itu dan menjawab “Ah apaan sih, malu tau!”, dan berlagak acuh tak
acuh menyembunyikan kegugupanku. “Hush jangan gitu nanti si emak malu loh.” komentar seorang lainnya *emak adalah
panggilan kesayangan dari teman-teman baruku setelah duduk dibangku SMA.
Sesampainya di ruang kelas aku masih terus membayangkan
wajah kak Dewa. Berulang kali aku bergumam dalam hati. Sementara itu Muti, Lita, Ami, dan teman-teman lain asyik mengobrol di bawah whiteboard yang terbentang gagah
di dinding dekat pintu masuk kelas. Di samping itu aku tetap hanyut pada
imajinasiku sendiri, beragam pikiran berkecamukdalam otakku. Bel tanda
pelajaran ketujuh akan segera dimulai benar-benar sangat mengejutkan sekaligus
membuyarkan lamunanku.
”Ya Allah semoga
hari ini berakhir indah” batinku. Pelajar terakhir ini sangat membosankan dan
akhirnya yang telah dinanti berbunyi, apalagi kalau bukanlah bel pulang. Kulirik jam tangan
yang setia melingkar di pergelangan tanganku seraya menarik tas gendong
berwarna biru dan bermotif polkadot kesayanganku untuk segera melangkah
meninggalkan kelas. Tuhan memang sangat menyayangikusegala harapan dan doaku
karena dengan atau tidak disengaja seseorang yang sedari tadi menghantui otakku
kini hadir lagi dihapanku. Sepanjang perjalanan pulang menuju istana terkasih tak henti-hentinya aku
menabur senyum indah dan bermimpi alangkah beruntungnya bisa mengenalnya.
Sesampainya di kamar aku
mengganti seragamku dengan kaos oblong berwarna biru dan memutuskan untuk
memejamkan mata dan larut bersama mimpi alias tidur.
Pukul 16.25 WIB.
“Woy banguuuun!” teriak Liana.
Nggak perlu teriak jugakan aku
belum budeg kok nyantai” jawabku denagn sedikit marah karena sangat terganggu
oleh singa betina yang tiba-tiba hijrah dari Gembiraloka. Suaranya yang
memekakan telingaku memaksauntuk segera kubuka selebar-lebarnya, kujumpailah
sosok yang tak asing
lagi bagiku, dengan rasa jengkel kulipat selimut dan bergegas mandi sambil
melemparkan bantal keteman satu kamarku itu.
***
“Hujan.” bisikku lirih
Air yang turun deras malam ini
takkunjung usai . dingin pun serasa menusuk tulang. Kuputuskan mengambil sebuah
novel berjudul sweet edelweiss dari rak bukuku. Tanganku tak henti-hentinya
memainkan baling-baling kipas. Semilir angin dari celah-celah kamar pun mulai
menarikanghelaian rambutku yang baru saja selesai kusisir dan ku biarkan tergerai
agar dapat sedikit mengurangi rasa dingin malam ini. Tak lama setelah selesai
kubuka-buka novelku mataku mulai terasa pedih. Kemudian dudduklah disampingku
seseoranmg yang sedari tadi mengeluh kedinginan. Kehadirannyapun memancing rasa
ingin mengobrol sebagai pengusir rasa jenuh.
“Tadi pulang jam berapa?” tanyaku
“Pas kamu lagi ngigau aku dateng!”
“ Emang aku ngigau?”
“ Gitu deh!”
“Boleh kenapa tidak. Mau cerita apa?”
“Tadi banyak hal yang terjadi aku
seneng banget tauk.”
“Misalnya?”
“Pertama
ya pas tadi aku kemusola aku ketemu sama kak Dewa terus pas pulang nggak
sengaja eh disengaja sih tapi sama tuhan.hehe” jawabku girang.
“Cie yang lagi seneng nih” godanya.
Sedari tadi Liana memandangiku tajam serasa tau apa yang sedang aku rasakan
kini. Oh
iya…. Liana adalah teman seperjuanganku sejak kami masih duduk dibangku taman
kanak-kanak. Sampai saat ini kami memutuskan belum ingin berpisah. Dialah yang
selama ini dengan setia selalu medengar omelan dan keluhanku setiap hari yang
mungkin bagi orang lain atau semua orang itu tidak penting dan tak menarik
sedikitpun. namun ia berbeda kesetiakawanan dan kesabaranya yang membuatku
bangga telah mengenalnya.
***
Hari
ini tanggal 12 April 2013, semua siswa kelas XII riuh ramai meminta maaf dan
bersalam-salamandengan semua warga sekolah termasuk kami adik kelas mereka.
tangispun buncah saat mereka saling mendoakan dan saling menyemangati mungkin
mereka menyesali semua yang telah terjadi di hari kemarin atua mungkin saja
mereka menyesali waktu yang amat singkat karena sebentar lagi mereka akan
segera berpisah untuk melanjutkan di perguruan tinggi. Namun yang sangat
mengecewakanku adalah buakan karena apa-apa hanya saja orang yang kunabti-nanti
yatu Kak Dewa sama sekali tak memunculkan batang hidungnya dihadapanku
untuksekedar berjabat tangan.
“Mungkin terlewatkan atau tidak
sempat saja” pikirku menenangkan diri.
Perlahan aku menarik nafas
dalam-dalam meredakan dadaku yang sesak oleh rasa kecewa yang mendalam. Tapi
usahakupun sia-sia untuk mengusir bayangan kak Dewa. Ia seperti hantu
gentayangan yang belum puas kalu saja ia belum bisa membuatku gelisah dan tak
dapat berbuat apa-apa. Aku berusaha tetap menaruh konsentrasiku penuh jam
pelajaran bahasa inggris kali ini namun “nol” sama sekali tidak berhasil. Aku
bingung harus melakukan apa agar perasaanku lebih baik, haruskah tidur? Mana
mungkin bukan tidur nanti yang kudapat malah semprot yang akan kuterima.
Jam pulang tiba. Aku berjalan
gontai menghampiri Liana yang telah menantiku di balik
daun pintu depan kelasku. Belum sampai dihadapannya akupun mulai menghujamnya
dengan sederet omelan yang tiada ujungnya.
“Heh! Ngomong apa kamu itu?”
tanyanya bingung dengan ulahku siang ini.
“Masak tadi Kak Dewa nggak kekelasku.” Gerutuku.
“Dea?”
Teriak seseorang itu kemudian menghentikan
langkah kami seketika. “Apa?”
“Ikut ke kost nyak!” jawab ami
sambil nyengir.
“Yuk mari.”
“Kenapa kok cemberut gitu?”
“Kesel, bete, mangkel, males, marah
kecewa, ah syudahlah lupakan! Jangan tanyakan lagi”
Sesampainya
di kostku lempar tas gendongku dan meraih
ponselku yang tadi pagi kuletakkan di dekat
lemari bajuku. Hari ini terik sekali , kipas angin yang kunyalakanpun
serasa tak berfungsi apa-apa. Pelan-pelan sambil bermain ponsel , kuseka pipi
dan dahiku yang sudah banjir keringat.
“BRUK”
ku jatuhkan badanku dibusa yang kuletakan dilantai beralaskan karpet berwarna
biru gradasi itu.
Lima
belas menit senyap padahal disitu hidup tiga hamba Allah. Namun yang kudengar hanyalah bunyi kyped yang benar-benar menjadi hidup mereka masing-masing.
20
menit, 1 jam berlalu, siang ini aku memang memutuskan untuk tidak tidur siang
karena sebenarnya banyak sekali tugas yang harus kuselesaikan dan hal yang
banyak hal yang menggantungi otakku. Aku menatap langit-langit kamarku dengan
tanda tanya besar.
Banyak hal yang telah Liana
dan Ami ceritakan
tanpa makna dan tanpa ujung pangkal.
***
“Senin
pagi yang indah” bisikku saat aku terbangun dari tidurku yang nyenyak tadi
malam. Bergegas aku mengambik handuk untuk mandi sebelum mendapat omelan dari
orang terkasihku. Saat kulirik jam dinding yang bertengger dengan gagahnya
menunujuk angka 4 aku menguap untuk memuaskan rasa kantuk dan menarik seluruh
tulangku. Setelah selesai prepare untuk kembali ke perantauanku aku berpamitan dan
mencium seluruh tangan keluargaku sebagai bekal untuk menghapus rinduku sebelum
perjumpaanku minggu yang akan dating. Pukul 05.25 aku sampai di kost bersama ayah dan motor
kesayanganku. Kemudian kulanjutkan untuk langsung pergi kesekolah karena
mungkin kehadiranku telah dinanti. Mehehe *PDnya kagak nahan.
Ternyata
benar, sesampainya di kelas aku dimarahi oleh Sita karena dating terlambat dari
perjanjian kemarin. Hari ini rencananya aku bersama Ami merias dimas diajeng.
Acara rias-merias berlangsung lancer. Hari ini tak lengkap rasanya kalau tak
diabadikan. Akhirnya kami pun mengadak1an foto bersama di dalam kelas.
“Eh ayo cepet! Kejar tayang nih!”
teriak Alifia yang mengejutkan seisi kelas. Semua makhluk penghuni XE kemudian
berpose di tempat masing-masing dan sesi pemotretan berlangsung dengan meriah.
Tiba-tiba bunyi piano samar-samar terdengar dari luar.
“Heeeeh?” lariku seperti tak lihat
jalan menabrak semua orang saat menyadari pemilik sumber ketenangan hati.
Seketika aku tercenung, membisu, tenggelam dalam kekaguman. Dari belakang seisi
kelas berlari menuju depan kelas dan bersorak-sorai karena melihat cowok
ganteng yang tubuhnya dibalut kain batik berwarna merah maroon yang membuatnya
semakin mempesona itu bertengger di panggung. Setelah beberapa menit menyaksikan
penampilan kak Dewa semua protes karena ia hanya membawakan beberapa lagu.
“Yah kok udahan?!” keluhku.
“Lha terus suruh berapa lama? Mati
gaya kaleeee.” timpal Lita.
“Cieee yang kecewa berat.” komentar
Muti.
“Mau yang lebih?” celetuk Sita.
“Yang lebih? Maksudnya?” tanyaku
penasaran.
“Maksudnya mau yang lebih dari
sekedar lihat dia dari kejauhan gitu?”
“Mauuuuu. Tapi mau apa coba? Mau
duduk deket dia?”
“Ya nggak lah. Tapi kalo nyali kamu
gede nggak masalah juga sih.”
“Ah nggak berani aku.” jawabku
sambil senyam-senyum dalam hati mau juga sih.
“Yaudah. Kalo foto bareng gimana?”
“Mauuuuu banget.” jawabku kompak
dengan Ami.
“Tapi gimana caranya?” tanya Ami
ragu.
“Yakan setidaknya aku keanal sama
dia, iyatah??? Ntar aku yang ngomong sama dia.
“Ya udah ayo sekarang!!!” jawabku
penuh semangat.
*Dideket kaka Dewa
Sumpah
degdegan abis keringat dingin dan gemeter tangan ku lumayan menunjukkan rasa
gugupku didepan kak Dewa.
“Kak emmm ada temenku yang pengen
foto, boleh???” tanya Sita malu-malu pada kak Dewa. Dengan sigap kak Dewa
berdiri seraya menjawab ”Boleh!! Duhh tapi malu nih!?” dengan senyum yang amat
manis ia berdiri tepat disampingku.
“Duh bentar-bentar jadi gugup”
tiba-tiba suara kak Dewa memecah rasa gemetarku.
“Haduhhh” desahku kemudian.
Setelah
dua kali kami berfoto kami berterimakasih dan pergi menuju kelas.” Senang bukan
main rasanya.”kataku saat hendak menuju kelas.
“Sama!!” jawab Ami.
“Udah puas atau pengen lagi????”
sahut Sita sambil tersenyum menggoda.
“Ah udah tadi aja udah keringat
dingi abis-abisan kok!!”
Aku sangat menikmati hari ini karena
mungkin hari ini akan menjadi akhir pertemuanku sebelum nanti pengmuman
kelulusan. Sejak saat itu aku memasang foto kami sebagai wallpaper di handphone
ku, karena itu satu-satunya yang dapat menghapus rinduku pada kak Dewa.
Hari pengumuman tiba. Hari ini hari
jumat tanggal 24 april 2013 , wah betapa senangnya Kak Dewa saat ini kini ia
telah lulus SMA, kemudian akan meneruskan ke perguruan tingggi. Kegiatanku
jumat pagi ini adalah bersih-bersih sesuai dengan perintah pak hadi guru BK ku
yang telah diumumkan kemarin. Dengan mengenakan seragam pramuka lengkap kami
memulai petualangan kami bersih-bersih lingkungan sekolah. Selesai
bersih-bersih aku dan teman-teman memutuskan pergi kekantin untuk makan dan
melepas dahaga yang sedari tadi telah mengusik. Sepulangku dari kantin kudapati
sosok yang sangat tak asing dimataku tengah duduk manis didepan lapangan basket
bersama kawan-kawannya, siapa lagi kalu bukan Kak Dewa. Tatapanku kala itu
hanya terfokus pada lelaki bertubuh tegap dan tidak terlalu berotot itu malah
cenderung kecil.hingga tanpa kusadari akutelah melewati kelaku dan
“BRAAKKK....aduuuuh” aku telah mencium daun pintu ruang UKS yang terletak
disebelah ruang kelasku. Ya ALLAH, malu banget sakit pula. Teman-teman yang
menyadari tingkahku kali ini menertawakanku kencang sekali seperti aku sedang
membuat kelucuan yang sangat parah hu\ingga mereka tak menyadari aku sedang
kesakitan dan hampir saja menangis dihadapan mereka. Aku berjalan menuju pintu
kelasku sambil menggosok-gosok dahiku.
***
“Hari
selasa yang melelahkan” keluhku pada Liana yang sudah cantik duduk manis dibusa
kamar kost kami.
“Kok
baru pulang??” tanyanya seraya memandangiku kasihan.
“Soalnya
baru selese latihannya.” Singkat cerita tadi mulai jam pelajaran ke-3 hingga
sekarang jam 5 sore aku berlatih nari untuk pentas diacara wisuda purnasiswa
yang rencananya akan dilaksanakan besok pagi, hari ini kami bekerja keras
karena waktu yang diberikan untuk latihan hanya 2 hari itupun tidak full untuk
latihan. Sejak kemarin kami berl;atih dan hari ini adalah gladi bersihnya.
“Eh
Li aku tadi ketumu kak Dewa loh! Sumpah ganteng banget sekarang dia potong
ramput sumpe kereeen abiiis nggak ketulungan pokoknya!!”
“Lihat
punyaku nggak?” tanyanya sambil cengar-cengir mengisyaratkan sesuatu.
“Nggak
tu!? Eh lihat-liat tapi cuma sekilas. Hehe. Siapa tadi yang nyuruh pulang
tadikan udahtak suruh nungguin aku aja biar bisa lihat nyeselkan kalo udah
kayak gini?!.” Godaku
“Yah
mana aku tau kalo tau gitu ceritanya tadi aku nungguin kamu disekolah, mana
besok yang kelas 10 sama 11 pulang pagi nggak bisa lihat wisudanya. Uuuuh.”
Gerutunya
“Ya
besok nggak usah pulang nugguin aku lagi aja biar ntar bisa ketemu. Hahaha”
“Mandi
sana nggak enak bau kamu kecuuut. Haha.”
“Jahat
banget tah kamu hausnya maklum lah dari tadi pagi ampe jam segini latihan
mulu.” Akupun kemudianmemeluknya hingga membuatnya berontak dan memarahiku.
Setelah selesai mandi aku meluluri
tubuhku dengan balsem sesuai anjuran guru tariku tadi agar tidak terlalu
pegal-pegal setelah bangun pagi.
Pukul
05.00 aku sudah sampai di sekolah untuk latihan dan bersiap-siap tampil. Setelah
lama menunggu giliran tampil, akhirnya para penari dipersilhakan untuk naik
panggung. Tanpa sengaja aku menatap seseorang yang sangat indah mengenakan
setelan jas hitam, tak lupa dengan dasinya yang berwarna biru. Dia sangat
tampan, lebih tampan dari pertama kali aku melihatnya. Aku beruntung bisa
melihatnya kali ini, sebelum semuanya terlambat. Mungkin hari ini menjadi hari
terakhir aku bertemu dan melihatnya setampan ini sebelum nanti akhirnya aku
dipertemukan dengannya saat kami telah sama-sama dewasa.
Ketika rindu ini menjelma menjadi namamu.
Biarkan mentari yang selalu menyambutmu dengan hangat.
Biarkan burung-burung berkicau sebagai tanda rinduku
padamu.
Biarkan senja mengantarkan rinduku ke peraduan di hatimu.
Biarkan angin malam menyampaikan sejuta rinduku padamu.
Akan kurasakan sendiri rasa rindu yang membelenggu dalam
kalbuku.
-TAMAT-



Tidak ada komentar:
Posting Komentar