Sabtu, 07 September 2013

TUTS PIANO


“Dia memang indah dan benar-benar indahentah dariapa tuhan telah menciptakan ia.” Kata-kata itu yang yang kini benar-benar menghantui fikiranku. Lelaki yangmemang tak sengaja kulirik saat ada acara class meeting disekolahku telah mengusik ketenangan hidupku hari ini. Nama! Iya nama, siapakah namanyapun aku tak tau bagaimana aku bisa menyukainya, sungguh takdir tuhan memang indah, pagi-pagi mataku sudah mendapatkan vitamin terindah yang tak akan dan tak mungkin terlupakan dan akan membeku didalam otakku. Setelah acara yang mengesankan itu aku terus didera rasa penasaran, beberapa hari aku benar-benar menjadi orang yang  dibuat gila seketika oleh keadaan. Tanpa bosan aku mencari siapakah namanya akhirnya akupun menemukan namanya
. Ia adalah kaka Dewa, lengkapnya keenan dewa anugrah , nama yang indah. God aku sangat terbuai oleh senyumnya yang mungkin terbuat dari gula, manis sekali. Ah Tuhan melting rasanya. Dia memang juara dihati setiap gadis di smada tercinta. Singkat cerita awalkali aku menyaksikan kelihaiannya mamainkan teman kesayangannya (piano) aku mulai mengaguminya saat itu ada lah salah seorang teman karibku yang bernama Ami menunjukan ketampanan kakak kelasku yang saat ini duduk dikelas XII *(tak perlu disebutkan profilnya) itu kepadaku. Hari itu memang sungguh semperna indah sekali aku menyaksikan malaikat tuhan turun ke bumisedang bernyanyi dibawah pepohonan rindang. Hari-hari berikutnya aku mulai selalu mencari-carinya, hingga akhirnya aku tau ia sering mengunjungi musola. Subhanallah. Bukan hanya tampan namun hatinya pun juga menawan. Mungkin dosaku sudah tak terkira aku pergi ke musola bukan sekedar untuk beribadah namun disis lain juga ingin kak Dewa menghadap Engkau. Rasanya ingin berteriak berteriak memanggil namanya sekencang-kencangnya. Aku memandanginya nyaris tanpa berkedip sementara Ami yang sedari tadi berceloteh riang mulai dari pelajaran hari ini yang membosankan, gossip yang sedang hot, dan sampai hal-hal yang menurutku tak perlu dibicarakan ditempat umum seperti musola. Saat tak kusadari ternyata kaka Dewa  menoleh kearahku, “wuih hampir saja ketahuan” gumamku dalam hati, akupun lekas-lekas memalingkan pandanganku, canggung sekaligus malu. Ami yang sedari tadi mengomel karena ceritanya mulai tak kudengarkan tiba-tiba diam seribu bahasa dan memandangiku yang sedang asik membenahi mukena yang selesai kupakai.

Kenapa?” tanyaku saat mulai menyadari diam memperhatikanku dengan tatapan aneh.
“Kenapa!” tanyanya balik padaku, mengambil nafas pelan seraya memasang mimic penuh kegarangan.
            Dengan ekor mata aku meliriknya dengan  tahu apa yang sebenarnya inain ia katakan, namun ternyata ia tak melanjutkan sedikitpun komentarnya. Setelah selesai merapikan mukena, kami bergegas menuju pintu dan duduk diteras musola yang beralas keramik warna hitam ituseraya mengenakan sepatu. Tanpa kami sadari 2 pasang mata telah memperhatikan kami sedari tadi sembari mengucap 
“Udah sholatnya?”
“Udah” jawabku singkat.
“Modusnya juga udah? Haha”
Sontak aku menatapnya lekat-lekat pada orang itu dan menjawab “Ah apaan sih, malu tau!”, dan berlagak acuh tak acuh  menyembunyikan kegugupanku. “Hush jangan gitu nanti si emak malu loh.” komentar seorang lainnya *emak adalah panggilan kesayangan dari teman-teman baruku setelah duduk dibangku SMA.     
Sesampainya di ruang kelas aku masih terus membayangkan wajah kak Dewa. Berulang kali aku bergumam dalam hati. Sementara itu Muti, Lita, Ami, dan teman-teman lain asyik mengobrol di bawah whiteboard yang terbentang gagah di dinding dekat pintu masuk kelas. Di samping itu aku tetap hanyut pada imajinasiku sendiri, beragam pikiran berkecamukdalam otakku. Bel tanda pelajaran ketujuh akan segera dimulai benar-benar sangat mengejutkan sekaligus membuyarkan lamunanku.
”Ya Allah semoga hari ini berakhir indah” batinku. Pelajar terakhir ini sangat membosankan dan akhirnya yang telah dinanti berbunyi, apalagi kalau bukanlah bel pulang. Kulirik jam tangan yang setia melingkar di pergelangan tanganku seraya menarik tas gendong berwarna biru dan bermotif polkadot kesayanganku untuk segera melangkah meninggalkan kelas. Tuhan memang sangat menyayangikusegala harapan dan doaku karena dengan atau tidak disengaja seseorang yang sedari tadi menghantui otakku kini hadir lagi dihapanku. Sepanjang perjalanan pulang  menuju istana terkasih tak henti-hentinya aku menabur senyum indah dan bermimpi alangkah beruntungnya bisa mengenalnya. Sesampainya di kamar aku mengganti seragamku dengan kaos oblong berwarna biru dan memutuskan untuk memejamkan mata dan larut bersama mimpi alias tidur.
Pukul 16.25 WIB.
“Woy banguuuun!” teriak Liana.
Nggak perlu teriak jugakan aku belum budeg kok nyantai” jawabku denagn sedikit marah karena sangat terganggu oleh singa betina yang tiba-tiba hijrah dari Gembiraloka. Suaranya yang memekakan telingaku memaksauntuk segera kubuka selebar-lebarnya, kujumpailah sosok yang tak asing lagi bagiku, dengan rasa jengkel kulipat selimut dan bergegas mandi sambil melemparkan bantal keteman satu kamarku itu.
***
“Hujan.” bisikku lirih
Air yang turun deras malam ini takkunjung usai . dingin pun serasa menusuk tulang. Kuputuskan mengambil sebuah novel berjudul sweet edelweiss dari rak bukuku. Tanganku tak henti-hentinya memainkan baling-baling kipas. Semilir angin dari celah-celah kamar pun mulai menarikanghelaian rambutku yang baru saja selesai kusisir dan ku biarkan tergerai agar dapat sedikit mengurangi rasa dingin malam ini. Tak lama setelah selesai kubuka-buka novelku mataku mulai terasa pedih. Kemudian dudduklah disampingku seseoranmg yang sedari tadi mengeluh kedinginan. Kehadirannyapun memancing rasa ingin mengobrol sebagai pengusir rasa jenuh.
“Tadi pulang jam berapa?” tanyaku
“Pas kamu lagi ngigau aku dateng!”
“ Emang aku ngigau?”
“ Gitu deh!”
 “Boleh kenapa tidak. Mau cerita apa?”
“Tadi banyak hal yang terjadi aku seneng banget tauk.”
“Misalnya?”
Pertama ya pas tadi aku kemusola aku ketemu sama kak Dewa terus pas pulang nggak sengaja eh disengaja sih tapi sama tuhan.hehe” jawabku girang.
“Cie yang lagi seneng nih” godanya. Sedari tadi Liana memandangiku tajam serasa tau apa yang sedang aku rasakan kini. Oh iya…. Liana adalah teman seperjuanganku sejak kami masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Sampai saat ini kami memutuskan belum ingin berpisah. Dialah yang selama ini dengan setia selalu medengar omelan dan keluhanku setiap hari yang mungkin bagi orang lain atau semua orang itu tidak penting dan tak menarik sedikitpun. namun ia berbeda kesetiakawanan dan kesabaranya yang membuatku bangga telah mengenalnya.
***
            Hari ini tanggal 12 April 2013, semua siswa kelas XII riuh ramai meminta maaf dan bersalam-salamandengan semua warga sekolah termasuk kami adik kelas mereka. tangispun buncah saat mereka saling mendoakan dan saling menyemangati mungkin mereka menyesali semua yang telah terjadi di hari kemarin atua mungkin saja mereka menyesali waktu yang amat singkat karena sebentar lagi mereka akan segera berpisah untuk melanjutkan di perguruan tinggi. Namun yang sangat mengecewakanku adalah buakan karena apa-apa hanya saja orang yang kunabti-nanti yatu Kak Dewa sama sekali tak memunculkan batang hidungnya dihadapanku untuksekedar berjabat tangan.
“Mungkin terlewatkan atau tidak sempat saja” pikirku menenangkan diri.
Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam meredakan dadaku yang sesak oleh rasa kecewa yang mendalam. Tapi usahakupun sia-sia untuk mengusir bayangan kak Dewa. Ia seperti hantu gentayangan yang belum puas kalu saja ia belum bisa membuatku gelisah dan tak dapat berbuat apa-apa. Aku berusaha tetap menaruh konsentrasiku penuh jam pelajaran bahasa inggris kali ini namun “nol” sama sekali tidak berhasil. Aku bingung harus melakukan apa agar perasaanku lebih baik, haruskah tidur? Mana mungkin bukan tidur nanti yang kudapat malah semprot yang akan kuterima.
Jam pulang tiba. Aku berjalan gontai menghampiri Liana yang telah menantiku di balik daun pintu depan kelasku. Belum sampai dihadapannya akupun mulai menghujamnya dengan sederet omelan yang tiada ujungnya.
“Heh! Ngomong apa kamu itu?” tanyanya bingung dengan ulahku siang ini.
“Masak tadi Kak Dewa nggak  kekelasku.” Gerutuku.
“Dea?”
Teriak seseorang itu kemudian menghentikan langkah kami seketika. “Apa?”
“Ikut ke kost nyak!” jawab ami sambil nyengir.
“Yuk mari.”
“Kenapa kok cemberut gitu?”
“Kesel, bete, mangkel, males, marah kecewa, ah syudahlah lupakan! Jangan tanyakan lagi”
            Sesampainya di kostku lempar tas gendongku dan meraih ponselku yang tadi pagi kuletakkan di dekat  lemari bajuku. Hari ini terik sekali , kipas angin yang kunyalakanpun serasa tak berfungsi apa-apa. Pelan-pelan sambil bermain ponsel , kuseka pipi dan dahiku yang sudah banjir keringat.
            “BRUK” ku jatuhkan badanku dibusa yang kuletakan dilantai beralaskan karpet berwarna biru gradasi itu. 
            Lima belas menit senyap padahal disitu hidup tiga hamba Allah. Namun yang kudengar hanyalah bunyi kyped yang benar-benar menjadi hidup mereka masing-masing.
            20 menit, 1 jam berlalu, siang ini aku memang memutuskan untuk tidak tidur siang karena sebenarnya banyak sekali tugas yang harus kuselesaikan dan hal yang banyak hal yang menggantungi otakku. Aku menatap langit-langit kamarku dengan tanda tanya besar. Banyak hal yang telah Liana dan Ami ceritakan tanpa makna dan tanpa ujung pangkal.
***
            “Senin pagi yang indah” bisikku saat aku terbangun dari tidurku yang nyenyak tadi malam. Bergegas aku mengambik handuk untuk mandi sebelum mendapat omelan dari orang terkasihku. Saat kulirik jam dinding yang bertengger dengan gagahnya menunujuk angka 4 aku menguap untuk memuaskan rasa kantuk dan menarik seluruh tulangku. Setelah selesai prepare untuk kembali ke perantauanku aku berpamitan dan mencium seluruh tangan keluargaku sebagai bekal untuk menghapus rinduku sebelum perjumpaanku minggu yang akan dating. Pukul 05.25 aku sampai di kost bersama ayah dan motor kesayanganku. Kemudian kulanjutkan untuk langsung pergi kesekolah karena mungkin kehadiranku telah dinanti. Mehehe *PDnya kagak nahan.
            Ternyata benar, sesampainya di kelas aku dimarahi oleh Sita karena dating terlambat dari perjanjian kemarin. Hari ini rencananya aku bersama Ami merias dimas diajeng. Acara rias-merias berlangsung lancer. Hari ini tak lengkap rasanya kalau tak diabadikan. Akhirnya kami pun mengadak1an foto bersama di dalam kelas.
“Eh ayo cepet! Kejar tayang nih!” teriak Alifia yang mengejutkan seisi kelas. Semua makhluk penghuni XE kemudian berpose di tempat masing-masing dan sesi pemotretan berlangsung dengan meriah. Tiba-tiba bunyi piano samar-samar terdengar dari luar.
“Heeeeh?” lariku seperti tak lihat jalan menabrak semua orang saat menyadari pemilik sumber ketenangan hati. Seketika aku tercenung, membisu, tenggelam dalam kekaguman. Dari belakang seisi kelas berlari menuju depan kelas dan bersorak-sorai karena melihat cowok ganteng yang tubuhnya dibalut kain batik berwarna merah maroon yang membuatnya semakin mempesona itu bertengger di panggung. Setelah beberapa menit menyaksikan penampilan kak Dewa semua protes karena ia hanya membawakan beberapa lagu.
“Yah kok udahan?!” keluhku.
“Lha terus suruh berapa lama? Mati gaya kaleeee.” timpal Lita.
“Cieee yang kecewa berat.” komentar Muti.
“Mau yang lebih?” celetuk Sita.
“Yang lebih? Maksudnya?” tanyaku penasaran.
“Maksudnya mau yang lebih dari sekedar lihat dia dari kejauhan gitu?”
“Mauuuuu. Tapi mau apa coba? Mau duduk deket dia?”
“Ya nggak lah. Tapi kalo nyali kamu gede nggak masalah juga sih.”
“Ah nggak berani aku.” jawabku sambil senyam-senyum dalam hati mau juga sih.
“Yaudah. Kalo foto bareng gimana?”
“Mauuuuu banget.” jawabku kompak dengan Ami.
“Tapi gimana caranya?” tanya Ami ragu.
“Yakan setidaknya aku keanal sama dia, iyatah??? Ntar aku yang ngomong sama dia.
“Ya udah ayo sekarang!!!” jawabku penuh semangat.

*Dideket kaka Dewa
            Sumpah degdegan abis keringat dingin dan gemeter tangan ku lumayan menunjukkan rasa gugupku didepan kak Dewa.
“Kak emmm ada temenku yang pengen foto, boleh???” tanya Sita malu-malu pada kak Dewa. Dengan sigap kak Dewa berdiri seraya menjawab ”Boleh!! Duhh tapi malu nih!?” dengan senyum yang amat manis ia berdiri tepat disampingku.
“Duh bentar-bentar jadi gugup” tiba-tiba suara kak Dewa memecah rasa gemetarku.
“Haduhhh” desahku kemudian.
            Setelah dua kali kami berfoto kami berterimakasih dan pergi menuju kelas.” Senang bukan main rasanya.”kataku saat hendak menuju kelas.
“Sama!!” jawab Ami.
“Udah puas atau pengen lagi????” sahut Sita sambil tersenyum menggoda.
“Ah udah tadi aja udah keringat dingi abis-abisan kok!!”
            Aku sangat menikmati hari ini karena mungkin hari ini akan menjadi akhir pertemuanku sebelum nanti pengmuman kelulusan. Sejak saat itu aku memasang foto kami sebagai wallpaper di handphone ku, karena itu satu-satunya yang dapat menghapus rinduku pada kak Dewa.
            Hari pengumuman tiba. Hari ini hari jumat tanggal 24 april 2013 , wah betapa senangnya Kak Dewa saat ini kini ia telah lulus SMA, kemudian akan meneruskan ke perguruan tingggi. Kegiatanku jumat pagi ini adalah bersih-bersih sesuai dengan perintah pak hadi guru BK ku yang telah diumumkan kemarin. Dengan mengenakan seragam pramuka lengkap kami memulai petualangan kami bersih-bersih lingkungan sekolah. Selesai bersih-bersih aku dan teman-teman memutuskan pergi kekantin untuk makan dan melepas dahaga yang sedari tadi telah mengusik. Sepulangku dari kantin kudapati sosok yang sangat tak asing dimataku tengah duduk manis didepan lapangan basket bersama kawan-kawannya, siapa lagi kalu bukan Kak Dewa. Tatapanku kala itu hanya terfokus pada lelaki bertubuh tegap dan tidak terlalu berotot itu malah cenderung kecil.hingga tanpa kusadari akutelah melewati kelaku dan “BRAAKKK....aduuuuh” aku telah mencium daun pintu ruang UKS yang terletak disebelah ruang kelasku. Ya ALLAH, malu banget sakit pula. Teman-teman yang menyadari tingkahku kali ini menertawakanku kencang sekali seperti aku sedang membuat kelucuan yang sangat parah hu\ingga mereka tak menyadari aku sedang kesakitan dan hampir saja menangis dihadapan mereka. Aku berjalan menuju pintu kelasku sambil menggosok-gosok dahiku. 
***
“Hari selasa yang melelahkan” keluhku pada Liana yang sudah cantik duduk manis dibusa kamar kost kami.
“Kok baru pulang??” tanyanya seraya memandangiku kasihan.
“Soalnya baru selese latihannya.” Singkat cerita tadi mulai jam pelajaran ke-3 hingga sekarang jam 5 sore aku berlatih nari untuk pentas diacara wisuda purnasiswa yang rencananya akan dilaksanakan besok pagi, hari ini kami bekerja keras karena waktu yang diberikan untuk latihan hanya 2 hari itupun tidak full untuk latihan. Sejak kemarin kami berl;atih dan hari ini adalah gladi bersihnya.
“Eh Li aku tadi ketumu kak Dewa loh! Sumpah ganteng banget sekarang dia potong ramput sumpe kereeen abiiis nggak ketulungan pokoknya!!”
“Lihat punyaku nggak?” tanyanya sambil cengar-cengir mengisyaratkan sesuatu.
“Nggak tu!? Eh lihat-liat tapi cuma sekilas. Hehe. Siapa tadi yang nyuruh pulang tadikan udahtak suruh nungguin aku aja biar bisa lihat nyeselkan kalo udah kayak gini?!.” Godaku
“Yah mana aku tau kalo tau gitu ceritanya tadi aku nungguin kamu disekolah, mana besok yang kelas 10 sama 11 pulang pagi nggak bisa lihat wisudanya. Uuuuh.” Gerutunya
“Ya besok nggak usah pulang nugguin aku lagi aja biar ntar bisa ketemu. Hahaha”
“Mandi sana nggak enak bau kamu kecuuut. Haha.”
“Jahat banget tah kamu hausnya maklum lah dari tadi pagi ampe jam segini latihan mulu.” Akupun kemudianmemeluknya hingga membuatnya berontak dan memarahiku.
            Setelah selesai mandi aku meluluri tubuhku dengan balsem sesuai anjuran guru tariku tadi agar tidak terlalu pegal-pegal setelah bangun pagi.
Pukul 05.00 aku sudah sampai di sekolah untuk latihan dan bersiap-siap tampil. Setelah lama menunggu giliran tampil, akhirnya para penari dipersilhakan untuk naik panggung. Tanpa sengaja aku menatap seseorang yang sangat indah mengenakan setelan jas hitam, tak lupa dengan dasinya yang berwarna biru. Dia sangat tampan, lebih tampan dari pertama kali aku melihatnya. Aku beruntung bisa melihatnya kali ini, sebelum semuanya terlambat. Mungkin hari ini menjadi hari terakhir aku bertemu dan melihatnya setampan ini sebelum nanti akhirnya aku dipertemukan dengannya saat kami telah sama-sama dewasa.
Ketika rindu ini menjelma menjadi namamu.
Biarkan mentari yang selalu menyambutmu dengan hangat.
Biarkan burung-burung berkicau sebagai tanda rinduku padamu.
Biarkan senja mengantarkan rinduku ke peraduan di hatimu.
Biarkan angin malam menyampaikan sejuta rinduku padamu.
Akan kurasakan sendiri rasa rindu yang membelenggu dalam kalbuku.
-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar